Pengikut

Rabu, 05 November 2014

CINTA SEGITIGA MAHASISWA, MASYARAKAT, PEMERINTAH DALAM WACANA KENAIKAN BBM

Oleh : Agus Maulani* Terkait kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Meski belum ada kenaikan, dampak yang dirasakan masyarakat sudah mulai terasa, namun tetap saja aspirasi kami belum ditanggapi meski banyak mahasiswa yang mendengar keluh kesah kami sebagai masyarakat. Mahasiswa yang dulunya mempunyai jiwa kepekaan sosial yang tinggi terhadap aspirasi atas keluhan masyarakat untuk menyampaikan kepada pemerintah. Tapi sekarang ini kepekaan mahasiswa pada isu sosial sudah melemah, yang ada mahasiswa saat ini hanya memikirkan nilai dan nilai, dimana nilai hanyalah sebatas seremonial dalam dunia pendidikan. Hal ini ditegaskan Agus Maulani Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Menurut Agus, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dinilai tidak tepat, jika pemerintah hanya menggunakan logika matematik semata. Seharusnya pemerintah jeli melihat aspek sosial serta efek domino dari kebijakan tersebut. Apakah layak atau tidak untuk menaikkan BBM? Jika secara de facto kebijakan tersebut sangat mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat, terlebih masyarakat menengah kebawah,” tegasnya Jika pemerintah benar-benar menaikan harga BBM maka hal tersebut akan menjadi ‘pil pahit’ yang harus dinikmati oleh masyarakat. Agus menilai mahasiswa Kuningan belum ‘sauyunan (kebersamaan)’ mengawal, memantau kebijakan serta program pemerintah yang urgent dan menyentuh lini kehidupan mendasar dari masyarakat. Kepekaan, dan peran mahasiswa sebagai penyampai aspirasi masyarakat kepada pemerintah patut dipertanyakan. Ia mengakui, sangat merindukan mahasiswa yang kompak dalam mengawal, memantau, dan menyampaikan aspirasi keluhan masyarakat kepada pemerintah. Jika mahasiswa dapat memahami dan menjalankan peranan sebagai agent of change, agent of social control maka masyarakat akan bernostalgia dan merasakan eksistensi ‘kemahasiswaaan’ seperti dulu. Namun saat ini, mahasiswa seolah menutup mata dan telinga sehingga fungsi agent of change, agent of social control mulai memudar dari jatidiri mahasiswa. Mahasiswa, sambung Agus, mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar dari pada pemuda-pemuda lainnya. Mahasiswa yang hanya belajar di dalam kelas termasuk orang yang merugi karena kalau mahasiswa lulus kuliah hanya membawa selembar kertas bertuliskan transkip atau selembar kertas ijazah. Karena masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan selembar kertas melainkan mahasiswa harus menjadi seorang pemimpin di indonesia. Disinilah pentingnya mahasiswa mengikuti organisasi kemahasiswaan baik intra maupun ekstra kampus sebagai ikhtiar dan fase penggemblengan mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan serta menumbuhkan nilai-nilai kepekaan terhadap situasi sosial di masyarakat. Mahasiswa dimata Masyarakat Mahasiswa dalam konteks yang sangat luas menggambarkan nilai-nilai intelektual pemikir muda yang sangat tinggi. Sebagai pribadi yang menanggung beban akan moralitas dalam suatu tatanan masyarakat, mahasiswa dituntut untuk selalu bisa dan ikut berpartisipasi dalam proses memakmurkan bangsa. Beberapa kajian baru-baru ini telah banyak membeberkan dan menggambarkan keadaan mahasiswa maupun lingkungannya yang dianggap sebagai pengangguran terselubung. Penilaian akan kinerja yang tidak maksimal terhadap action mahasiswa dan masih banyak lagi penilaian yang negatif. Dalam melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi serta pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga dimana mereka ditempatkan. Jelas sekali pemerintah membutuhkan koordinasi dengan masyarakat yang ditengahi melalui peran mahasiswa. Disinilah peran kita sebagai warga Indonesia yang seutuhnya. Permasalahan bangsa merupakan tanggung jawab bersama dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang makmur dan sejahtera. Pada akhirnya masyarakat, tidak membutuhkan ‘nilai tinggi’ dari seorang mahasiswa, namun bagaimana masyarakat merasa memiliki ‘pembela’ yang berasal dari kaum intelektual yang berani menggaungkan perubahan dan berhadapan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil makmur. “Hari ini aku menaruh sebuah mawar hitam, Tepat disamping nisan yang nampak megah, Bukan bertuliskan nama ayah atau ibuku, Namun sebuah nama yang terpatri dengan tinta emas, Nurani bin Mahasiswa” (HS:2014) Peran dan Fungsi Mahasiswa Terhadap Masyarakat Manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Dia harus berinteraksi dengan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia itu makhluk sosial. Dia secara individual merupakan bagian dari orang lain. Maka, mau tidak mau kita sebagai manusia harus berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cara berhubungan dengan orang lain yakni melalui organisasi. Melalui organisasi, kita mampu mengolah diri dengan benar, baik secara naluriah maupun fitrah. Bukti telah banyak di depan mata. Orang-orang yang sukses sebagai pemimpin, pengusaha, atau status sosial yang mapan lainnya, pasti dulunya mereka pernah mengenyam pahit manisnya berorganisasi. Mereka banyak makan asam garam dalam organisasi itu. Sebut saja Anies Baswedan salah satunya. Mengapa organisasi demikian penting bagi kita, terutama di zaman yang mendunia (global) saat ini? Itu tidak lain karena dalam berorganisasi kita akan terasah dan terlatih untuk hidup berjamaah dengan orang lain, baik suka maupun duka. Di organisasi itulah tercampur secara alamiah berbagai perilaku dan sifat masing-masing anggota. Ada yang egois, namun ada pula yang sosial. Ada yang pendiam, tapi ada pula yang cerewetnya minta ampun. Dalam kebersamaan di organisasi, akan terbentuk secara alami manusia yang sempurna dalam arti psikologis. Yakni, manusia yang mampu kapan saatnya menempatkan posisi dirinya sebagai individu dan kapan pula dia harus lebih mementingkan kepentingan organisasi demi kepentingan bersama pula. Posisi Peran, Fungsi, dan Kontribusi Mahasiswa terhadap Masyarakat Mahasiswa mempunyai peranan yang amat penting bagi masyarakat. Selain belajar. Mahasiswa merupakan penyalur aspirasi rakyat ke pemerintah. Mahasiswa mempunyai banyak akses untuk menyalurakan aspirasi rakyat ke pemerintah. Mahasiswa adalah harapan rakyat. Tetapi pada kenyataannya, pada jaman sekarang, mahasiswa dapat dibedakan menjadi dua. Mahasiswa yang hanya mengejar keberhasilan di dunia kerja dan mahasiswa yang tidak hanya mengejar keberhasilan tetapi juga sebagai penyalur aspirasi. Segala keluhan masyarakat terhadap pemerintah dapat disalurkan melalui mahasiswa. Hanya segelintir mahasiswa yang mau menunaikan kewajiban ini. Hal ini sangat kontras dengan mahasiswa yang berada di jaman Orde Baru. Sebagian besar mahasiswa bergerak bersama-sama untuk melawan rezim Orde Baru. Mereka mengemban amanat dari seluruh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan mahasiswa jaman sekarang. Sebagian besar mahasiswa hanya mau mengejar keberhasilan saja. Mereka seakan tidak peduli dengan segala keluhan-keluhan masyarakat terhadap pemerintah. Hanya segelintir mahasiswa yang masih mau menyalurkan amanat dari masyarakat. Hal ini sungguh sangat ironis. Bagaimana kehidupan masyarakat dapat menjadi sejahtera jika penyalur-nya saja tidak ada. Mahasiswa seharusnya menyadari hal ini. Karena mereka adalah harapan bagi masyarakat. Karena suara mahasiswa sangat berpengaruh. Mahasiswa adalah mata air kepemimpinan nasional. Dan sebagai mata air, maka organisasi ini harus terus jernih. Kalau mata airnya sampai keruh, ke bawahnya nanti makin keruh. Yang mata airnya jernih saja ke bawahnya sering keruh karena faktor perjalanan. Makanya, mata air itu harus dijaga agar tetap jernih. Kita sebagai mahasiswa harus dapat menyatukan langkah sebagai pengemban amanat dari masyarakat. Mahasiswa adalah harapan bagi masyarakat. Walaupun misi ini sangat sulit, pasti akan mudah kalau dilakukuan bersama. Karena kita adalah MAHASISWA “Berikanlah aku lima pemuda, niscaya aku akan merubah dunia.” Itulah kiranya perkataan yang terucap dari lisan presiden pertama kita, Soekarno. Ketika muda, Soekarno amat peduli dengan permasalahan bangsa. Beliau berusaha mencari jalan keluar untuk menentang penjajahan asing yang menyengsarakan rakyat. Semangat dan keberaniannya dalam perjuangan menuju kebangkitan bangsa perlu ditiru mahasiswa di masa kini. Pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat” adalah sebagian kecil karya yang berpengaruh dalam kebangkitan bangsa ini. Soekarno berhasil meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia karena memegang teguh idealisme, integritas dan konsistensi perjuangan yang tidak pernah gentar terhadap kekejaman dari kekuasaan penjajah yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Pola pikir dan sikap mental founding fathers sangat perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini terutama mahasiswa. Mahasiswa adalah iron stock. Iron stock itu diartikan bahwa mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan moralitas baik yang nantinya dapat menggantikan generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua kepada golongan muda. Oleh karena itu, kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan. Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam QS Al-Maidah: 54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir yang memerangi. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan, baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan. Kita juga diharuskan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi pada masa generasi sebelumnya. Kemudian ada pertanyaan, kenapa harus iron stock? kenapa bukan golden stock yang mungkin lebih bagus dan mahal? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama, sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran. Secara fitrah, masa-masa mahasiswa merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal dalam akselerasi kebangkitan masyarakat. Peran sosial yang tercermin dalam kepekaan tinggi terhadap lingkungan, banyak dimiliki mahasiswa. Pemikiran politik kritis terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. Di mata masyarakat, mahasiswa seringkali disematkan dengan nama agent of change (agen perubahan). Ketika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Sebagai mahasiswa, selain memiliki kelebihan intelektulalitasnya, kita juga mendapat kesempatan untuk mendalami ilmu yang tidak semua orang mendapatkannya. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi yang didapatkan dari kesempatannya untuk menjangkau pustaka-pustaka yang ada di kampus maupun dengan kesempatannya yang lebih mudah, misalnya bertemu dengan tokoh-tokoh (stakeholder) kampus dan masyarakat. Dinamika kampus juga mampu memberi hal positif karena kampus terdiri dari mahasiswa yang beranekaragam asal, latar belakang, agama, pandangan politik, kondisi finansial, dan lain-lain. Itulah sebabnya mengapa kampus diistilahkan sebagai miniatur negara, sehingga mahasiswa akan dapat lebih menghormati akan keragaman yang ada di dalam masyarakat nantinya. Namun, mahasiswa sering terjebak dalam kondisi dimana statusnya dalam kampus hanya diartikan sempit dengan berkutat pada dunia kampus saja. Mahasiswa seperti itu menganggap bahwa tugasnya adalah sekedar belajar di kampus untuk pada akhirnya mencapai nilai IPK yang tinggi. Jika memang seperti itu kondisinya, maka akan sangat sia-sia kelebihan yang dimiliki mahasiswa. Sebenarnya memang tidak salah sebagai mahasiswa kita memiliki beban untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapat nilai yang baik sebagai tanggung jawab terhadap orangtua yang telah membiayai kita dan sebagai syarat untuk meniti karier setelah lulus. Akan tetapi, harus diingat bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak hanya itu saja. Menjadi seorang mahasiswa tidak lantas terlepas dari dunia di luar kampus. Mahasiswa masih memiliki banyak tanggung jawab lain yang harus dipenuhi. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat, di mana mahasiswa harus memiliki kepekaan untuk berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi di luar dirinya maupun kegiatan kampus, baik itu masyarakat umum di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitarnya atau bahkan permasalahan bangsanya. Terlebih lagi bagi mereka yang berkuliah di universitas negeri, di mana kampusnya dibangun dengan uang masyarakat kecil. Sudah sepatutnya mahasiswa itu lebih memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Untuk itu, sebagai mahasiswa, kita diharapkan mempunyai andil dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Lantas, kontribusi seperti apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat? Ada banyak kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi terpenting yang harus dilakukan mahasiswa adalah belajar dan mengasah kemampuannya sebaik mungkin dalam bidang/jurusan masing-masing. Jika hal itu dilakukan secara sungguh-sungguh, maka diharapkan ia mampu mengimplementasikan ilmunya dalam masyarakat dan memberi manfaat bagi orang banyak. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan, disiplin ilmu pascalulus nanti dapat dimanfaatkan untuk mengupayakan proses penyelenggaraan good governance (tata pemerintahan yang baik), pemberdayaan masyarakat, menjaga etika, norma dan moralitas, meningkatkan SDM dan pendidikan masyarakat. Di samping itu, seorang mahasiswa dapat berkontribusi dengan kemampuan intelektualnya sehingga memberi perubahan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. Ini dapat dilakukan ketika masih menjadi mahasiswa. Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa mahasiswa dapat berkontribusi sebagai alat social control (kontrol sosial). Ia memiliki keleluasaan untuk memberi kendali dan kritik terhadap pemerintah maupun masyarakat di saat terjadi pelanggaran dan ketidakadilan yang merugikan kepentingan masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa sebagai mahasiswa tidak hanya belajar saja, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat tanpa melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. Jadi, pada intinya harus tercipta keseimbangan antara akademik dan sosial pada mahasiswa, sehingga nantinya mampu menghadapi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya serta berkontribusi penuh di dalamnya. Bagaimanakah mereposisi/memposisikan kembali peran mahasiswa? Peran mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia sangat besar dan penting, seperti yang telah dipaparkan di atas, namun sebagian besar mahasiswa masih berpikiran sempit. Oleh karena itu, mahasiswa harus mengubah mindset (pemikirannya) yang sempit menjadi terbuka, kritis, dan memiliki empati terhadap masalah-masalah bangsa. Jika tidak, maka bangsa Indonesia akan terus terpuruk. Tri Darma Perguruan Tinggi harus dipahami oleh semua kalangan mahasiswa. Kalau hal itu dipahami, maka perguruan tinggi benar-benar menghasilkan para sarjana yang berkualitas, berdedikasi, dan berintegritas. Dimulai dari fungsinya sebagai insan akademis, insan agama, sampai pada insan kemasyarakatan. Pendidikan adalah jembatan untuk menyalurkan kreatifitas, keilmuan, pengembangan kemampuan, dan juga penanaman budi pekerti bagi generasi yang akan memegang Negeri pada masa berikutnya. Lembaga pendidikan tentunya sudah mengupayakan hal ini. Kemudian mahasiswa memang harus benar-benar memahami tujuannya sebagai mahasiswa. Begitupun dengan penelitian dan pengembangan yang akan mencetak insan yang kreatif, inovatif, dan cemerlang. Sampai pada pengabdian masyarakat, itu akan menjadi tugas mulia untuk memberikan hal-hal yang akan memberikan manfaat besar bagi khalayak. Jika Tri Darma Perguruan Tinggi itu ditelaah, dipahami, dan dilaksanakan, jadilah mahasiswa yang benar- benar agen pemberi harapan. Tetapi apabila Tri Darma Perguruan Tinggi hanya sebuah landasan tanpa pemahaman dan tidak diamalkan, maka mahasiswa sama halnya seperti sampah yang tidak berguna bagi masyarakat. Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. Mahasiswa pun masih tergolong kaum idealis, dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol, ormas, dan lain sebagainya. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah. Mahasiswa dalam hal hubungan masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik, yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat, dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyampai lidah pemerintah. Mahasiswa diharapkan mampu membantu mensosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat. Oleh karena itu tugas mahasiswalah yang harus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat. Posisi mahasiswa cukuplah rentan, sebab mahasiswa berdiri diantara idealisme dan realita. Tak jarang ia berat sebelah, saat membela idealisme ternyata ia melihat realita masyarakat yang semakin buruk. Saat kita berpihak pada realita, ternyata ia secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya dimiliki. Contoh: kasusnya yang paling gampang adalah saat terjadi kenaikkan BBM. Bagaimanakah fungsi mahasiswa yang sebenarnya? Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Hatta, yaitu membentuk manusia susila dan demokrat yang: 1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat 2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu: memiliki sense of crisis, dan selalu mengembangkan dirinya. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dalam hal tersebut, insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai guardian of value (penjaga nilai), dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut. Demikianlah peran, fungsi, dan kontribusi mahasiswa. Kiprah mahasiswa sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini. Mahasiswa merupakan tonggak kejayaan rakyat. Peranannya sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Seorang mahasiswa tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran rakyat yang sangat memprihatinkan ini. Seorang mahasiswa jangan sampai menjadi penghalang kemajuan bangsa dan perjuangan menuju kebangkitan Indonesia. Bersemangatlah dan lakukan yang terbaik. Hidup Mahasiswa. Hidup Rakyat Indonesia !!! Dampak Kenaikkan atau Pengurangan Subsidi BBM Dalam menaikkan harga BBM, Pemerintah tidak bisa menggunakan landasan matematik saja, melainkan pemerintah harus jeli melihat masyarakat terlebih menengah kebawah. Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebelum 1 Januari 2015. Namun pemerintah saat ini masih berfokus mengatur perlindungan sosial terhadap warga yang bakal terkena dampak kenaikan harga tersebut. Hingga akhir tahun ini, pemerintah menyediakan anggaran hingga Rp 5 triliun untuk dana kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi. Disambung, Politikus PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka menolak rencana pemerintah untuk mencabut subsidi atau menaikkan harga bahan BBM. Menurut Rieke dalam kicauannya di akun Twitter, @Rieke_diah, pencabutan subsidi BBM akan menimbulkan efek domino kepada rakyat kecil. Seperti akan naiknya harga kebutuhan pokok yang pasti akan meresahkan rakyat kecil. "Pencabutan subsidi BBM, akibatnya harga jual BBM ke rakyat juga naik, efek domino harus dihitung kenaikan kebutuhan pokok dan lain - lain," kata Rieke, untuk itu. Rieke mendesak pemerintah agar memberikan jaminan kepada masyarakat agar kenaikan BBM tidak berimbas kepada kenaikan harga kebutuhan pokok. "Silakan cabut subsidi BBM asal ada jaminan harga kebutuhan pokok tidak naik. Kalau tidak ada (jaminan) jangan cabut subsidi," ucap Rieke. Rieke juga mengkritik solusi pemerintah yang berniat membarter pencabutan subsidi BBM dengan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ia menginginkan agar pemerintah tetap di bawah kehendak rakyat dan konstitusi untuk melayani dan menjamin kesejahteraan rakyat. Beberapa waktu lalu pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil memberikan sinyal bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi akan diberlakukan oleh pemerintah sebelum Januari 2015. "Sebelum Januari, bisa besok, bisa sebelum Januari," kata Sofyan. Program KIS, KIP, dan KKS bukan solusi yang tepat untuk membarter pencabutan atau menaikkan harga BBM jika alasannya hanya untuk terus meningkatkan pendapatan dari hasil belanja minyak internasional. Asumsi harga minyak pada UU APBN adalah USD 90/barel, sementara harga WTIcrude oil per 27 Maret kemarin sudah melonjak hingga sekitar USD 107/barel. Hal ini berdampak pada peningkatan beban untuk subsidi pada fostur APBN, menurut pemerintah, dapat meningkatkan defisit anggaran sebesar 1% dari 2.2% menjadi 3.2%. Tentunya hal ini akan berdampak pada peningkatan dana tambahan untuk menambah defisit tersebut, yang pastinya akan dibiayai oleh utang. Terkait kenaikan harga minyak dunia tersebut, pada pembahasan APBN-P, pemerintah juga hendak menaikkan asumsi harga minyak menjadi USD 105/barel. Kemudian terkait dengan dampak sosial adalah adanya anggapan bahwa Pemerintah hanya mementingkan kepentingan kelompok asing dan golongan kaya yang hanya mencari keuntungan bahkan aspek sosial yang selama ini terabaikan seperti fasilitas jalan raya yang banyak berlubang, bangunan sekolah banyak yang rusak, belum lagi persoalan sampah yang menumpuk tidak dikelola mengancam kesehatan. Lambannya peran Pemerintah mengatasi aspek sosial ini akan menyulitkan pengambilan keputusan terkait kebijakan yang akan dibuat sehingga nantinya akan menjadi tidak optimal secara keseluruhannya. Ditinjau secara menyeluruh bahwa kehidupan masyarakat di kota dan daerah berbeda sehingga peran Pemerintah Pusat dan Daerah diharapkan dapat bersinergi dengan kondisi sosial yang nampak saat ini. Apakah pengaruh kenaikan atau pencabutan subsidi BBM terhadap kondisi politik rakyat Indonesia? Dalam kehidupan politik yang sedang berkembang di masyarakat saat ini dilihat sebagai proses berjalannya demokrasi yang pluralis dengan beragamnya budaya dan suku telah membuat proses demokrasi di Indonesia dinilai sebagai suatu keberhasilan, namun masih terkendala dengan akses informasi yang memadai dan transparansi kinerja Pemerintah Pusat dan Daerah masih kurang memuaskan karena begitu banyaknya pejabat di Pemerintahan yang terjerat perkara hukum seperti korupsi, suap, dan kasus pidana lainnya. Pendapat publik terhadap kebijakan Pemerintah di DPR juga masih kurang memuaskan dengan masih banyaknya skandal anggota dewan yang terkait dengan korupsi, suap, bahkan opini publik banyak juga yang memberikan anggapan bahwa lembaga ini seolah tidak mewakili kepentingan rakyat tetapi telah menjadi mesin politik partai untuk meraih simpati rakyat guna pemilu selanjutnya namun tidak sedikit pula anggapan yang menilai bahwa anggota DPR adalah orang-orang yang cerdas, berintegritas dan akuntabel yang akan menjadi ‘pioneer’ untuk melakukan perubahan yang lebih baik bagi bangsa dan Negara Indonesia. Apakah pengaruh kenaikan atau pencabutan subsidi BBM terhadap kondisi pendidikan rakyat Indonesia? Biaya pendidikan terutama pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi akan semakin meningkat. Jangkauan masyarakat ekonomi rendah akan sulit untuk melanjutkan pendidikan karena terbatasnya pendapatan dan harga yang semakin tidak terjangkau. Fasilitas sekolah yang terbatas dan bangunan yang rusak juga masih banyak. Belum lagi di beberapa daerah jumlah sekolah tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Kebijakan pemerintah dengan memberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) adalah sudah tepat. Subsidi BBM dapat juga perlu diprioritaskan pada pembangunan sekolah, fasilitas sekolah dan beasiswa pendidikan tinggi bagi anak yang berprestasi. SDM berpendidikan adalah investasi bangsa Indonesia kedepannya. Pemerintah semestinya menyiapkan perencanaan jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia, sehingga bisa di latih mencapai tujuan tertentu. Seperti contohnya kalau ingin membuat mobil maka kirimlah orang dalam jumlah tertentu untuk belajar ke Negara maju. Selanjutnya, setelah selesai pendidikan. Mereka diberikan fasilitas untuk mengembangkan kemampuanya hingga mampu membuat pabrik sendiri. Dengan demikian maka tidak akan rugi mengirim orang belajar. Kenyataanya dari tahun 1970, program beasiswa seperti ini tidak jelas alurnya sehingga tenaga ahli yang sudah datang tidak diberdayakan dengan baik. Wakil ketua DPR RI, Fadly Zon mengatakan wacana pemerintah menaikkan BBM bukanlah suatu keharusan. Menurutnya, hal itu tidak diperlukan, karena harga minyak dunia mengalami penurunan saat ini. Fadly menerangkan, dulu sempat ada desakan untuk menaikkan harga BBM, lantaran harga minyak dunia mengalami kenaikan. Pernah mencapai 145 Dollar per Barell. "Itu diatas asumsi APBN kita,"ujar Fadly. Sekarang, asumsi harga minyak dunia dalam APBN 105 Dollar per barel. Sementara harga minyak dunia kini, 82 dolar AS per barrel. "Jadi harusnya harga BBM turun. Kalau saya pribadi tidak ada keharusan menaikkan BBM itu, "ungkap Fadly, saat dikonfirmasi. Selanjutnya, Fadly menuturkan wacana kenaikan ini harus melibatkan rakyat. Karena tentunya, lanjut dia, dengan naiknya harga BBM, tentu mempengaruhi kenaikan inflasi dan harga kebutuhan lainnya serta menjadi ‘pil pahit’ jika pemerintah bertolak belakang dengan keinginan masyarakat. Penulis adalah Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kuningan.